Refleksi Konsultasi Sinode Diosesan VII KAM dalam Terang Kebangkitan
RP. Serafin Dany Sanusi, OSC *)
Sinode Diosesan VII Keuskupan Agung Medan layak direfleksikan dalam terang Paskah. Di tengah keletihan pelayanan pastoral, perubahan zaman, dan luka-luka yang ditampilkan dalam proses konsultasi, Kristus yang bangkit tetap berjalan bersama Gereja-Nya. Karena itu, sinode bukan sekadar rangkaian agenda, melainkan jalan rahmat: jalan untuk mendengarkan lebih jujur, meneguhkan lebih sungguh, dan mewartakan dengan hati yang diperbarui (bdk. Yoh 20:1–18)
Paskah Menjadi Cara Membaca Sinode
Peristiwa Kebangkitan tidak lahir dari suasana yang meriah. Paskah berawal dari pagi yang masih gelap, dari hati yang remuk, dari harapan yang nyaris padam. Maria Magdalena, Maria Ibu Yakobus, dan Salome datang ke kubur dengan duka, bukan dengan kemenangan (Mrk 16:1–8). Dalam pandangan kita, kubur adalah tempat terakhir. Namun siapa sangka, justru di tempat yang disangka sebagai akhir, Allah membuka awal yang baru. Kubur yang kosong menjadi tanda bahwa maut tidak berkuasa untuk menentukan kata terakhir.
Dari titik inilah Proses Konsultasi Sinode Diosesan VII KAM hendak direfleksikan. Sinode pertama-tama bukan urusan sidang, bjkan semata-mata menghasilkan rumusan, atau kerja administratif. Sinode adalah saat selruh umat beriman, sebagai Gereja, bertelut di hadapan Kristus yang bangkit dan membiarkan diri dibentuk kembali oleh Roh Kudus. Di dalamnya, Gereja diajak untuk menatap dengan jujur dan dengan rendah hati bertanya, “siapa yang letih, apa yang mandek, apa dan saiapa yang terluka?” Pertanyaan yang perlu direnungkan, namun tanpa kehilangan harapan. Sebab peristiwa Paskah terus mengajarkan kepada kita bahwa Tuhan sanggup membuka hidup baru, bahkan dari tempat yang kita kira telah tertutup (bdk. Yoh 11:25).
Mendengarkan: Awal dari Pertobatan Pastoral
Proses konsultasi sinode sedikit memberikan gambaran bahwa selama ini tidak jarang Gereja tergoda untuk lebih cepat berbicara daripada mendengar. Kita terburu-buru memberi jawaban (resisting) sebelum sungguh mendengarkan dan memahami luka, kerinduan, dan pergulatan umat beriman. Mendengarkan dalam sinode bukanlah teknik mengumpulkan masukan. Mendengarkan adalah sikap rohani.
Dalam proses konsultasi Gereja belajar memberi tempat bagi suara yang sering terlewat: kaum muda yang gelisah, keluarga yang berjuang menjaga kesetiaan, para gembala yang dalam kesunyiannya merasakan lelah namun tetap setia melayani umat sederhana, mereka yang kecil dan terpencil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel. Suara-suara itu bukan sekedar untuk dicatat. Suara-suara itu harus dihormati sebagai bagian dari cara Roh Kudus bekerja dalam tubuh Gereja (bdk. Luk 4:18-19)
Kisah perjalanan dua murid ke Emaus kiranya dapat membantu kita untuk lebih merefleksikan hal ini. Yesus yang bangkit, sejak awal, tidak datang kepada dua murid dengan ceramah yang panjang. Ia mendekati mereka. Ia berjalan bersama mereka. Ia mendengarkan isi hati mereka. Sinodalitas sejati menuntut Gereja untuk tidak berjarak dari umat melainkan hadir lebih dekat, hadir lebih sabar, dan sungguh mau mendengar (Luk 24:13–24).
Meneguhkan: Bukan Sekadar Menghibur
Sesudah mendengarkan, Gereja dipanggil untuk meneguhkan. Peneguhan bukanlah sekadar berkata manis (lips-service) supaya orang merasa tenang. Peneguhan yang sejati lahir ketika pengalaman umat dipertemukan dengan terang Sabda Allah. Dalam bahasa Ray Dallio peneguhan merupakan hasil dari rumusan pain+reflection=progress (Luka jika dikelola dalam refleksi dan discernment akan menghasil kemajuan). Dengan begitu yang lemah dikuatkan, yang bingung diarahkan, dan yang terluka tidak dibiarkan sendirian.
Kristus yang bangkit dan hadir di tengah para murid dengan menyapa, “Damai Sejahtera bagi kamu” (Yoh 20:19–23). Ia datang dengan damai. Ia datang tidak untuk mempermalukan mereka karena pernah takut dan melarikan diri. Ia datang untuk memulihkan. Ia datang untuk menguatkan. Pada titik inilah Gereja belajar bahwa kebangkitan selalu membawa daya penyembuhan.
Sinode hendaknya tidak berubah menjadi ruang saling menyalahkan. Sinode harus menjadi ruang rahmat, tempat Gereja berani berkata jujur tentang kekurangannya, tetapi juga mau saling meneguhkan. Dalam suasana seperti itulah pertobatan pastoral memperoleh wajahnya yang nyata: bukan perubahan yang lahir dari tekanan, melainkan pembaruan yang tumbuh dari kasih dan kejujuran (bdk. Lumen Gentium, 24–27).
Mewartakan: Buah dari Perjumpaan dengan Yang Bangkit
Paskah tidak berhenti di kubur kosong. Paskah selalu bergerak menuju pewartaan. Maria Magdalena dkk berlari membawa kabar tentang kuburu kosong kepada para murid. Murid-murid yang hendak menuju Emaus berbalik arah dan kembali ke Yerusalem. Perjumpaan dengan Tuhan yang bangkit selalu memberikan dampak: keluar dari ketakutan menuju kesaksian (Yoh 20:18; Luk 24:33–35), dari zona nyaman dengan mantera “biasanya, menuju pada pertobatan pastoral dan pertoabatan tata kelola.
Tujuan akhir Sinode Diosesan VII KAM bukan sekadar tersusunnya dokumen atau selesainya tahapan. Tujuan akhirnya adalah Gereja yang lebih siap mewartakan Injil. Mwartakan bukan hanya di mimbar dan altar tetapi menuju “pasar” kehidupan: di keluarga, sekolah, masyaakat, dunia sosial, ranah budaya, bahkan ruang digital (bdk. Mat 28:19–20; Mrk 16:15; Evangelii Gaudium, 20–24). Mewartakan adalah menghadirkan Kristus yang bangkit di tengah kehidupan nyata. Injil yang diwarttakan harus tampak dalam belas kasih, kejujuran, keberanian membela yang lemah, dan dalam kesediaan Gereja untuk hadir di tengah dunia yang sering terasa kering, keras, dan letih (bdk. Yak 2:14–17; Dilexi Te, 27; Christus Vivit, 239–246).
Menjadi Oase Ilahi di Tengah Dunia
Visi Keuskupan Agung Medan adalah menjadi Oase Ilahi di Tengah Dunia. Visi ini menemukan makna terdalamnya dalam terang Paskah. Oase adalah tempat air ditemukan di tengah kegersangan. Oase adalah tempat di mana hidup dipulihkan agar perjalanan dapat dilanjutkan (bdk. Yes 35:1–7; Mzm 23:1–3). Gereja KAM dipanggil menjadi oase seperti itu. Di tengah masyarakat yang mudah letih oleh pertikaian, ketidakadilan, tekanan ekonomi, keretakan relasi, dan kegelisahan zaman, Gereja KAM hendak menghadirkan kesejukan iman, keteduhan persaudaraan, dan kekuatan harapan. Oase yang demikian hanya akan menjadi slogan jika “sumber airnya” tersumbat.
Proses konsultasi sinode merupakan prose membuka “sumbatan air” . Pertamyaam-pertanyaan Fokus Konsultas seperti: adakah pola pelayanan pastoral yang masih dipertahankan, padahal tidak lagi memberi kehidupan? Adakah kelompok-kelompok umat yang sebenarnya ada di sekitar kita, tetapi belum sungguh dirangkul? Adakah orang muda yang hadir, tetapi tidak merasakan Gereja sebagai rumah bersama? dan sebagainya bukanlah tanda kelemahan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu kita untuk menyongsong fajar kebangkitan. Gereja yang berani memeriksa dirinya dengan jujur adalah Gereja yang sungguh percaya akan kebangkitan (bdk. 1Kor 15:36–38)
Sinode: Jalan Bersama Seluruh Umat
Sinode Diosesan VII KAM bukanlah tanggungjawab segelintir orang. Sinode juga bukan milik uskup, imam, biarawan/wati, atau panitia saja. Sinode merupaka jalan bersama seluruh Umat Allah. Setiap umat beriman mempunyai tempat dalam proses ini. Suara seorang ibu dari stasi nun jauh dari parokinya , suara bapak-bapak yang jarang hadir di gereja, suara OMK yang sedang bingung mencari arah, suara para pendamping bina iman anak dan remaja, suara guru honorer, suara biarawan-biarawati, dan suara kaum awam di tengah dunia, semuanya berharga di hadapan Gereja (bdk. 1Kor 12:12–27; Lumen Gentium, 9–13).
Di sini tampak keindahan sinodalitas: Gereja tidak dibangun hanya oleh mereka yang paling pandai berbicara, tetapi oleh seluruh umat yang mau berjalan bersama di bawah tuntunan Roh Kudus. Dalam kebersamaan seperti itulah Gereja belajar menjadi lebih rendah hati, lebih terbuka, dan lebih taat pada kehendak Allah (Episcopalis Communio, 5–7; Sinodalitas dalam Kehidupan dan Misi Gereja, 6–8).
Menuju Fajar
Dalam terang Paskah, Sinode Diosesan VII KAM adalah undangan untuk berjalan menuju fajar. Dalam proses konsultasi, tidak semua persoalan akan selesai dalam sekejap. Barangkali masih ada luka yang harus disembuhkan perlahan. Bisa jadi masih ada jalan panjang yang harus ditempuh. Akan tetapi terang Kebangkita senantiasa memberi harapan bagi kita: Kristus telah bangkit, dan Ia tidak meninggalkan Gereja-Nya (Spes non Confudit)
Dalam Sinode Diosesan VII, Gereja KAM dipanggil untuk mendengarkan dengan lebih rendsh hati, meneguhkan dengan lebih penuh belas kasih, dan mewartakan dengan lebih berani. Dengan begitu sinode menghadirkan kebangkitan dalam hidup Gereja dan masyarakat.
*) Vikaris Episkopal Pastoral – KAM



