GEREJA KEUSKUPAN AGUNG MEDAN BERJALAN BERSAMA untuk MENDENGARKAN-MENEGUHKAN-MEWARTAKAN
KATA PENGANTAR
Syukur kepada Allah, Bapa yang Maharahim, karena dalam penyelenggaraan-Nya Gereja senantiasa diberi waktu rahmat untuk dibaharui. Masa Prapaska adalah salah satu waktu rahmat itu: saat Gereja diajak kembali ke inti Injil, bertobat, percaya, dan
berjalan di belakang Kristus yang memanggul salib. Dalam terang kasih Tuhan, buku Ibadat Jalan Salib ini disusun sebagai sarana doa bagi umat agar peziarahan Prapaska tidak berhenti pada kebiasaan lahiriah, melainkan sungguh menyentuh kedalaman
hati.
Jalan Salib bukan sekadar kenangan historis, melainkan peziarahan batin: kita memasuki langkah-langkah Kristus, menatap wajah-Nya yang terluka, dan membiarkan luka-luka itu berbicara kepada kehidupan kita. Di tiap perhentian, kita belajar bahwa keselamatan tidak lahir dari kemenangan instan, melainkan dari kasih yang setia; bukan dari kuasa yang menekan, melainkan dari kerendahan hati yang
memberi diri. Karena itu, ibadat ini disusun dalam irama rohani yang menuntun umat untuk mendengarkan, meneguhkan, dan mewartakan: mendengarkan Sabda dan realitas hidup umat, meneguhkan yang lemah dan terluka, serta mewartakan Injil
melalui kesaksian hidup yang nyata.
Dalam konteks perjalanan Gereja yang dipanggil untuk berjalan bersama, Jalan Salib ini juga dimaksudkan sebagai latihan hati untuk membangun budaya rohani yang dewasa: hening yang memberi ruang bagi Roh Kudus, kata-kata yang jernih dan tidak melukai, serta kepekaan terhadap mereka yang sering tidak terdengar suaranya. Dengan demikian, ibadat ini bukan hanya doa pribadi, tetapi juga doa Gereja yang mengubah cara kita hadir bagi sesama.
Secara khusus, buku ini mengajak umat membawa intensi ekologi integral dan preferensi bagi yang miskin. Salib Kristus hari ini tampak pula dalam jeritan bumi yang terluka dan jeritan saudara-saudari kita yang menanggung beban paling berat. Prapaska menjadi panggilan untuk pertobatan yang menyeluruh: menata ulang pilihan hidup, mengurangi pemborosan, menghidupi kesederhanaan, memperjuangkan keadilan, dan merawat rumah bersama agar iman menjadi kabar baik bagi yang kecil, yang rapuh, dan yang tersisih.
Agar ibadat ini sungguh menumbuhkan buah rohani, umat dianjurkan untuk menjalaninya dengan sikap doa yang tenang: memberi tempat bagi keheningan, membiarkan Sabda meresap, serta mengarahkan renungan pada pertobatan nyata. Bila ibadat ini dipimpin dalam kelompok, hendaknya suasana dijaga sebagai ruang aman: menghormati martabat setiap pribadi, tidak menjadikan pengalaman orang lain sebagai bahan pembicaraan, dan menutup setiap perhentian dengan doa yang meneguhkan harapan.
Akhirnya, kami menyampaikan terima kasih kepada Komisi Liturgi Keuskupan Agung Medan yang telah menyempurnakan buku ini. Semoga melalui ibadat Jalan Salib ini, Kristus sendiri menuntun langkah kita: menjadikan kita umat yang semakin peka untuk mendengarkan, semakin siap untuk meneguhkan, dan semakin berani untuk mewartakan, hingga Gereja sungguh menjadi tanda harapan dan “oase” kasih
Allah di tengah dunia.
Kiranya Bunda Maria yang setia berdiri di kaki salib menyertai peziarahan kita, dan kiranya Roh Kudus membaharui hati kita, agar Prapaskah ini berbuah dalam hidup yang lebih sederhana, lebih adil, lebih peduli, dan lebih kudus.
Medan, Januari 2026
Sekretariat Sinode Diosesan VII KAM





